Makalah Puasa

PUASA

Oleh:

Siti Fatimah (112430)

BAB I

PENDAHULUAN

Puasa merupakan  amalan-amalan ibadah  yang tidak hanya oleh umat sekarang tetapi juga dijalankan pada masa umat-umat terdahulu. Bagi orang yang beriman ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan pahala kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya diantara amal-amal ibadah lainnya. Puasa difungsikan sebagai  benteng yang kukuh yang dapat menjaga manusia dari bujuk rayu setan.  Dengan puasa, syahwat yang bersemayam dalam diri manusia akan terkekang sehingga manusia tidak lagi menjadi budak nafsu tetapi manusia akan menjadi majikannya.

Allah memerintahkan puasa bukan tanpa sebab. Karena segala sesuatu yang diciptakan tidak ada yang sia-sia dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti demi kebaikan hambanya. Kalau diamati lebih lanjut, ibadah puasa mempunyai manfaat yang sangat besar karena puasa tidak hanya bermanfaat dari segi rohani tetapi juga dalam segi lahiri. Barang siapa yang melakukannya dengan ikhlas dan sesuai dengan aturan maka akan diberi ganjaran yang besar oleh Allah.

Puasa mempunyai pengaruh menyeluruh baik secara individu maupun masyarakat dalam hadits telah disebutkan hal-hal yang terkait dengan puasa seperti halnya mengenai kesehatan dan lain sebagainya. Dalam menjalankan puasa secara tidak langsung telah diajarkan perilaku-perilaku yang baik seperti halnya sabar, bisa mengendalikan diri dan mempunyai tingkah laku yang baik.[1]

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Puasa

Puasa sendiri berasal dari kata “Shiyam”(صيامٌ  )dan “Shaum” (صَوْمُ ) keduanya adalah bentuk Masdar yang arti menurut bahasanya adalah  “Menahan” dan menurut syara’ ialah menahan dari perkara yang membatalkan puasa, seperti menahan makan, minum, nafsu dengan disertai niat tertentu, pada hari yang dapat dibuat puasa orang Islam, berakal, sehat, suci dari haid dan nifas.[2]

Sedangkan menurut istilah syari’ puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. Berdasarkan firman Allah swt yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 187

 وكلوا واشربوا حتّى يتبيّن لكم الخيط الا بيض من الحيط الاسود من الفجر…..

Artinya: “… Makan dan minumlah hingga terang  bagimu benang putih dari benang hitam  ketika fajar (Q.S Al-Baqarah: 187)

Sabda Rasulullah Saw :

عن ابن عمر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : اذا اقبل الليل وادبر النها وغابت الشمس فقد افطر الصاءم  (رواه البخارى ومسلم)

Artinya : Dari Ibnu Umar. Ia berkata, “saya telah mendengar nabi Saw, bersabda, “apabila malam datang, siang lenyap, dan matahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi orang yang puasa”. (HR. Bukhori dan Muslim)[3]

Umat Islam juga dikehendaki  menahan diri dari menipu, mengeluarkan kata-kata buruk , serta bertengkar atau membuat gaduh. Ini karena puasa merupakan medan latihan memupuk kesabaran dan kejujuran.[4]

 

  1. Macam-Macam Puasa

Puasa ada empat macam, yaitu:

  1. Puasa wajib yaitu puasa bulan ramadhan, puasa kafarat, dan puasa nazar.

Sebagaimana firman Allah swt yang berbunyi :

شهر رمضان الذى انزل فيه القران هدى للنّاس وبيّنارا من الهدى والفرقان، فمن شهد منكم الشهر فليصمه، ومن كان مريضا اوعلى سفر فعدّة من ايّام اخر ……

Artinya : “Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan  mengenai petunjuk itu dan pembeda (antar hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa dibulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

     Puasa ramadhan diwajibkan atas tiap-tiap orang mukallaf dengan salah satu dari ketentuan-ketentuan:

  1. Melihat bulan bagi yang melihatnya sendiri.
  2. Mencakupkan bulan sya’ban 30 hari.
  3. Dengan kabar mutawattir.
  4. Dengan ilmu hisab atau kabar dari ahli hisab.
  5. Puasa sunnah
  6. Puasa senin kamis

Salah satu puasa yang disunnahkan adalah puasa senin kamis seperti Sabda Rasulullah Saw.

عَنْ اَبِي قَتَادَةَ : انَّ رَسُوْلُاللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ ؟ فَقَالَ : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ اُنْزِلَ عَلَيّ (رواه البخار)َ

Artinya : “Diriwayatkan dari Abu Qatadah: Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa hari senin. Kemudian beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan, dan pada hari itu pula aku mendapatkan wahyu.” (HR. Bukhari)

Keutamaan puasa hari senin kamis adalah bisa menghapus kesalahan dan meninggikan derajat. Memang dua hari tersebut merupakan saat di mana amalan diangkat di hadapan Allah sehingga sangat baik untuk berpuasa saat itu.

  1. Puasa enam hari dalam bulan Syawal. Berdasarkan Nabi Rasulullah Saw.

عن ابى ايوب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر (رواه مسلم)

Artinya : “Dari Abu Ayyub. Rasulullah Saw bersabda : barang siapa puasa dalam bulan ramadhan, kemudian ia puasa enam hari dalam puasa syawal, adalah seperti puasa sepanjang masa. (HR. Muslim)

  1. Puasa hari Arafah (tanggal 9 bulan Haji) berdasarkan Rasulullah Saw.

عن ابي قتادة قال النبي صلى الله عليه وسلم : صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة (رواه مسلم)

Artinya : “Dari Abu Qotadah, Nabi Saw telah bersabda : puasa hari Arafah itu menghapus dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu, dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

 

  1. Puasa bulan Sya’ban

عن عائشة مارايت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط الا رمضان وما رايته في شهر اكثر منه صيام في شعبان (رواه البخارى ومسلم)

 

Artinya : “Dari Aisyah, saya tidak melihat Rasulullah Saw. menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain dalam bulan ramadhan, dan saya tidak melihat beliau dalam bualan-bualan yang lain berpuasa lebih banyak daripada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)[5]

  1. Puasa makruh, seperti puasa khusus hari jum’at.

Nabi Rasulullah Saw bersabda :

عن جويرية  بنت الحارث، رضي الله عنها : أنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم دخل عليها يوم الجمعة، وهي صائمة، فقال : (أصمت امس ؟). قالت : لا، قال : (تريدين أن تصومي غدا ؟ قالت : لا ، قال : (فأفطري). (رواه البخارى)

Artinya : (Diriwayatkan dari Abu Ayub): Nabi Saw. mengunjungi Juwairiyah binti Al-Harits r.a. pada hari jum’at dan ia (Juwairiyah) sedang berpuasa. Nabi Saw. bertanya kepadanya, “Apakah kau berpuasa kemarin?” Ia menjawab, “Tidak.” Nabi Saw. bertanya lagi, “Apakah kamu berniat puasa besok?” Ia berkata, “Tidak.” Nabi Saw. bersabda, “Kalau begitu berbukalah.” (HR. Bukhori).

  1. Puasa haram, seperti puasa pada hari raya, puasa pada hari tasyrik.

Larangan puasa pada hari raya dan hari tasyrik sudah dijelaskan dalam Sabda Rasulullah Saw.

  1. Hari raya

عَنْ ااَبِى عُبَيْدٍ مَوْلَى ابْنِى اَزْهَرَ قَالَ : شَهِدْتُ الْعِيْدَ مَعَ عُمَرَبْنِ الْخَطَّابِ، فَجَاءَ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ، فَخَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ : ,,اِنَّ هذّيْنِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُوْلُاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا : يِوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْاخَرُ يَوْمٌ تَأْكُلُوْنَ فِيْهِ مِنْ نُسُكِكُمْ. (رواه البخارى)

Artinya : “Diriwayatkan dari Abu ‘Ubaid, Maula Ibn Azhar, saya pernah merayakan hari raya bersama ‘Umar bin Khattab r.a. setelah datang (ke mushola), dia (‘Umar) mengerjakan shalat. Setelah selesai shalat, dia berpidato kepada jama’ah, dia berkata “Sesungguhnya, Rasullah Saw. telah melarang kita berpuasa  pada dua hari ini (hari raya Idul Fitri dan Idul adha) karena pada hari raya Idul Fitri menjadi hari berbuka dari puasa kalian, sedangkan pada hari raya Idul Adha menjadi hari untuk makan daging-daging binatang  kurban kalian”.  (HR. Bukhori)

  1. Hari Tasyrik

Rasulullah Saw. bersabda :

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِى قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ,, اَيَّامُ التَّشْرِيْقِ اَيَّامُ اَكْلٍ وَشُرْبٍ .وَفِى رِوَايَةٍ – َذِكْرٍللهِ،، (رواه البخارى)

Artinya : “Diriwayatkan dari Nubaisyah Al-Hudzali: Rasulullah Saw. bersabda, “Hari raya Tasyriq ialah hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Bukhori)

  1. Syarat Sah dan Wajib Puasa
  2. Islam
  3. Baligh
  4. Aqil, adalah orang yang tidak berakal ataupun belum baligh maka tidak wajib puasa.
  5. Kuasa mengerjakannya
  6. Suci dari haid, nifas bagi perempuan. Orang yang haid atau nifas tidak sah berpuasa, akan tetapi wajib untuk mengqadanya. Berdasarkan Hadits Nabi Saw :

عن عاءشة كانا نوءمل بقضاء الصوم ولا نوءمل بقضاء الصلاة (رواه البخارى)

Artinya : “Dari Aisyah. Ia berkata, “kami disuruh oleh Rasulullah Saw. mengqada puasa, dan tidak disuruhnya untuk mengqada shalat.” (Riwayat Bukhari)

  1. Pada waktu yang dibolehkan[6]
  2. Rukun Puasa

Rukun puasa yang harus diperhatikan selama berpuasa yaitu :

  1. Niat pada malam harinya.
  2. Menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
  3. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Yang membatalkan puasa adalah segala perkara yang wajib dijauhi dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yaitu:

  1. Makan dan minum dengan sengaja. Apabila makan dan minum karena lupa atau tidak sengaja. Maka tidak membatalkan puasa, sebagaimana Rasululllah bersabda

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا نسي فأكل وشرب فليتمّ صومه، فإنّما أطعمه اللهُ وسقاه (رواه البخارى)

Artinya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Nabi Saw. pernah bersabda, “Apabila seseorang (yang sedang berpuasa) makan atau minum karena lupa, maka ia harus melengkapkan (meneruskan) puasanya karena yang telah dimakan atau diminumnya itu adalah pemberian Allah.”(HR. Bukhari)[7]

  1. Bersetubuh dengan sengaja.

Bagi yang melakukannya wajib mengqadanya atau membayar kifarat.

  1. Istimma’, yaitu mengeluarkan sperma. Dengan sengaja maupun tidak, maka puasanya tetap batal.
  2. Muntah dengan sengaja.
  3. Keluar darah haid atau nifas.
  4. Gila.[8]
  5. Sunah-sunah puasa

Didalam berpuasa disunahkan mengerjakan 3 perkara, yaitu :

  1. Cepat-cepat berbuka puasa

عن سهل بن سعد رضي الله عنه : أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لا يزال النّاس بخير ما عجّلوا الفطر (رواه البخار)

Artinya : Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d r.a.: Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Orang-orang senantiasa dalam kebaikan sepanjang mereka menyegerakan berbuka puasa.”(HR. Bukhari)[9]

          Jika sudah nyata benar matahari terbenam (sudah masuk waktu maghrib). Jika masih dalam keadaan bimbang maka jangan cepat – cepat berbuka. Dan juga disunahkan dalam berbuka itu untuk memakan kurma terlebih dahulu, jika tidak didapat maka boleh dengan minum air.

  1. Mengakhirkan makan sahur

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : تسحّروا، فإنّ في السّحور بركة (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.: Nabi Saw. pernah bersabda, “Sahurlah karena ada berkah (barakah) didalamnya.” (HR. Bukhari)[10]

Selama sahur itu tidak jatuh dalam waktu bimbang, jika jatuh dalam waktu bimbang maka tidak boleh mengakhirkan sahur. Sahur itu sendiri sudah memperoleh kesunatan hanya dengan makan dan minum sedikit saja dan tidak berlebihan.

  1. Meninggalkan perkataan kotor

Oleh karena itu, orang yang berpuasa dapat menjaga diri dari berbicara bohong, membicarakan diri orang lain yang tidak baik dan lain – lain, seperti gosip, memaki – maki, dll.

Seandainya ada orang yang memaki – maki kepada orang yang sedang puasa, maka hendaknya (ia yang sedang berpuasa) berkata : ( اِنِّى صَا ئِمُ) artinya “Aku sedang berpuasa” sampai 2 atau 3 kali dengan lesannya. Sebagaimana kata Imam Nawawi dalam kitab “Adzkar” atau dengan hatinya sebagaimana pendapat Imam Rafi’i yang dinukilkan dari para Imam kemudian beliau meringkasnya.[11]

  1. Keutamaan puasa

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ,, قَالَ اللهُ عَزَّوَجَلَّ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اَدَمَ لَهُ اِلَّا الصِّيَامَ، فَاِنَّهُ لِى, وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ، وَالصِّيَامُجُنَّةٌ، فَاِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبْ، فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْقَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : اِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ, وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا، اِذَا اَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَاِذَا لَقِيَ رَبَّهُ، فَرِحَ بِصَوْمِهِ ،، (رواه البخارى)

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Saw. bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, Semua amal anak adam itu untuk dia sendiri, kecuali puasa karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya. Puasa itu benteng (pelindung dari siksa neraka). Oleh karena itu, apabila kamu sedang berpuasa, janganlah bersetubuh dan jangan pula berbuat gaduh. Apabila seseorang memakimu atau mengajak bertengkar dengan kamu, katakanlah ‘Sesungguhnya, saya ini sedang berpuasa.’ Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan (kekuasaan)-Nya, bau mulut seseorang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat nanti daripada bau harum kesturi. Selain itu, orang yang berpuasa mendapatkan dua kali kegembiraan, yaitu apabila (saat) berbuka, dia bergembira dengan buka puasanya, dan apabila kelak bertemu dengan Tuhannya, dia bergembira dengan puasanya.” (HR. Bukhari)[12]

       Puasa merupakan ibadah yang dapat membentengi muslim dari api neraka. Puasa juga melatih diri muslim ataupun muslimah untuk bersabar dalam segala hal. Sabar dalam menahan hawa nafsu dan sabar dalam menghadapi masalah hidup. Selain itu, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Pertama yaitu kegembiraan saat waktu berbuka, dan kegembiraan kedua adalah ketika meihat Allah di akhirat kelak.

Keutamaan berpuasa di jalan Allah

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُذْريِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ,, مَامِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِى سَبِيْلِ اللهِ، اِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذ لِكَ  الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا،،

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a.: Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang hamba Allah, Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka, sejauh jarak perjalanan tujuh puluh tahun karena puasanya satu hari itu.”

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.

Macam-macam puasa ada empat, yaitu puasa wajib, puasa sunnah, puasa makruh, dan puasa haram.

Syarat sah dan wajib puasa adalah Islam, baligh, aqil, kuasa mengerjakannya, suci dari haid, dan pada waktu yang dibolehkan.

Rukun puasa yang harus diperhatikan selama berpuasa yaitu Niat pada malam harinya. Menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, bersetubuh dengan sengaja, istimma’, muntah dengan sengaja, keluarnya darah haid atau nifas, dan gila.

Sunnah-sunnah dalam puasa adalah cepat-cepat berbuka puasa, mengakhiri makan sahur, dan meninggalkan perkataan kotor.

Keutamaan puasa adalah orang yang berpuasa mendapatkan dua kali kegembiraan, yaitu apabila (saat) berbuka, dia bergembira dengan buka puasanya, dan apabila kelak bertemu dengan Tuhannya, dia bergembira dengan puasanya. Selain itu ada juga keutamaan puasa yang lain, yaitu Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka, sejauh jarak perjalanan tujuh puluh tahun karena puasanya satu hari itu.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Suyantoaddimawi.blogspot.com/2013/05/fikih-puasa.

Az-Zabidi, Imam. Ringkasan Shahih Al-Bukhari. (2008). PT Mizan Pustaka : Bandung.

Muhammad, Abu Bakar. Terjemahan Subulus Salam. (1991). Penerbit Al-Ikhlas : Surabaya.

Amar, Imron Abu. Fathul Qorib. (1982). Menara Kudus : Kudus.

Rasyid, Sulaiman. Fiqih Islam. (2001). PT Sinar Baru Algensindo : Bandung.

Sudarsono. Pokok-Pokok Hukum Islam. (1987). Rineka Cipta : Bandung.

Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih Lima Mazhab. (1996). Lentera Basritama Beirut.

Wikipedia.org/wiki/Ibadat-puasa

 

[1] Suyantoaddimawi.blogspot.com/2013/05/fikih-puasa.

[2] Imron Abu Amar, Fathul Qorib, Kudus : Menara Kudus (1982), hal. 182

[3] Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Bandung : PT Sinar Baru Algensindo (2001). Hal. 220

[4] Wikipedia.org/wiki/Ibadat-puasa

[5]Imam Az-Zabidi., Op. Cit., Hal 376

[6] Sudarsono, Pokok-Pokok Hukum Islam, Bandung : Rineka cipta (1987). Hal 144

[7] Imam Az-Zabidi, Ringkasan Shahih Al-Bukhari, Bandung : Penerbit Mizan (2008), hal. 370

[8] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab. Penerbit Lentera Basritama Beirut (1996). Hal 162-163

[9] Imam Az-Zabidi., Op. Cit., hal. 373

[10] Imam Az-Zabidi., Op. Cit.,  Hal 369

[11] Imron Abu Amar, Op.Cit., hal. 185

[12] Imam Az-Zabidi., Op. Cit. Hal 363

Posisi Al-Qur’an dan Sunnah dalam Filsafat Pendidikan Islam

POSISI AL-QUR’AN DAN HADIST DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata kuliah : Filsafat Pendidikan Islam

Dosen Pengampu : Dr. H. Ihsan, M. Ag

 

Disusun oleh :

  1. Siti Fatimah                 (112430)
  2. Muhammad Asy’ari    (112434)
  3. Siti Nur Aisyah           (112440)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS

JURUSAN TARBIYAH PAI

2014

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Filsafat pendidikan Islam membincangkan filsafat tentang pendidikan bercorak Islam yang berisi perenungan-perenungan mengenai apa sesungguhnya pendidikan Islam itu dan bagaimana usaha-usaha pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam. Filsafat pendidikan sebagai aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.

Suatu filsafat pendidikan yang berdasar Islam tidak lain adalah pandangan dasar tentang pendidikan yang bersumberkan ajaran Islam itu sendiri (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang orientasi pemikirannya berdasarkan ajaran tersebut. Dengan perkataan lain, filsafat pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Posisi al-Qur’an dan Sunnah dalam Filsafat Pendidikan Islam mencakup pendidik, peserta didik, kedudukan pendidik.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana kedudukan pendidik?
  2. Siapa saja pendidik menurut Al-Qur’an?
  3. Bagaimanakah posisi Al-Qur’an dan Sunnah dalam Filsafat Pendidikan Islam?

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Pendidik

Dari segi bahasa, pendidik sebagaimana dijelaskan oleh WJS. Poerwadarminta adalah orang yang mendidik.[1] Adapun pengertian pendidik menurut istilah yang lazim digunakan di masyarakat telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Ahmad Tafsir, misalnya mengatakan bahwa pendidik dalam Islam, sama dengan teori di Barat, yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Selanjutnya ia mengatakan bahwa dalam Islam, orang yang paling bertanggungjawab adalah orang tua (ayah-ibu) anak didik.[2]

Dalam literatul pendidikan pada umumnya, istilah pendidik sering diwakili oleh istilah guru. Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menyebut guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[3]

Dengan demikian, kata pendidik secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya.[4]

Menurut petunjuk Al-Qur’an, pendidik secara garis besar ada empat:

a. Tuhan (Allah SWT)

Sebagai guru, Allah SWT menginginkan umat manusia menjadi baik dan bahagia hidup di dunia dan akhirat. Karena itu mereka harus memiliki etika dan bekal pengetahuan. Untuk mencapai tujuan tersebut Allah mengirimkan para Nabi-nabi yang patuh dan tunduk kepada kehendak-Nya. Para nabi menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia. Ajaran yang diterima umat manusia dapat memberi petunjuk mengenai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

b. Nabi Muhammad SAW

Sejalan dengan pembinaan yang dilakukan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW., Allah juga meminta beliau agar membina masyarakat , dengan perintah untuk berdakwah. Dalam hal ini, Rasulullah bertindak sebagai penerima al-Qur’an bertugas menyampaikan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam al-Qur’an dan dilanjutkan dengan mensucikan dan mengajarkan manusia. Mensucikan diidentikkan dengan mendidik, sedangkan tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan.

c. Orang tua

Al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki orang tua sebagai guru, yaitu memiliki hikmah atau kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio, dapat bersyukur kepada Allah, suka menasehati anaknya agar tidak mensekutukan Tuhan, memerintah anaknya agar menjalankan shalat, sabar dalam menghadapi penderitaan.

d. Orang lain

Orang lain ini disebut guru. Pada mulanya tugas mendidik itu adalah murni tugas kedua orang tua, akan tetapi karena perkembangan pengetahuan, keterampilan, sikap serta kebutuhan hidup sudah demikian luas, dalam dan rumit, maka orang tua tidak mampu lagi melaksanakan sendiri tugas-tugas mendidik anaknya.

Seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an mengenai adanya pendidik tersebut menggambarkan adanya perkembangan masyarakat, misalnya dari sejak zaman Nabi Adam, tentu harus Allah sendiri sebagai guru, karena tugas tersebut belum dapat diwakilkan kepada orang lain. Tetapi setelah ada Nabi, maka tugas mendidik masyarakat sudah diwakilkan kepada para Nabi, dan setelah masyarakat itu berkembang luas, tugas tersebut sebagian diwakilkan kepada orang tuanya masing-masing, dan setelah masyarakat itu berkembang luas, maka tugas mendidik dibagi lagi kepada orang lain yang secara khusus dipersiapkan untuk menjadi guru dan pendidik.[5]

  1. Kedudukan Pendidik

Yang menarik perhatian dalam pembahasan orang Islam tentang kedudukan pendidik ialah penghormatan yang luar biasa terhadap guru, sehingga menempatkannya pada tempat yang kedua sesudah martabat para nabi. Beliau mengutip salah satu ucapan seorang penyair Mesir zaman modern, yang artinya Berdirilah kamu bagi seorang guru dan hormatilah dia. Seorang guru itu hampir mendekati kedudukan seorang Rasul.[6]

Penjelasan mengenai kedudukan guru yang demikian tinggi itu selanjutnya diberikan oleh al-Ghazali. Menurutnya, seorang sarjana yang bekerja mengamalkan ilmunya adalah lebih baik daripada seorang yang beribadat saja, puasa saja setiap hari dan sembahyang yang dilakukan setiap malam.

Dengan melihat tugas yang dilakukan oleh guru yang disertai dengan kesabaran, penuh keikhlasan tanpa pamrih itulah yang menempatkan kedudukannya menjadi orang yang dihormati. Dengan demikian secara filosofis penghormatan yang tinggi kepada guru adalah sesuatu yang logis dan secara moral dan sosial sudah selayaknya harus dilakukan.

 

 

  1. Sifat-sifat Pendidik yang Baik

Disamping harus menguasai pengetahuan yang akan diajarkannya kepada murid, guru juga harus memiliki sifat-sifat tertentu yang diharapkan apa yang diberikan oleh guru kepada muridnya dapat didengar dan dipatuhi, tingkah lakunya dapat ditiru dan diteladani dengan baik.

Mohammad Athiyah al-Aabrasy menyebutkan tujuh sifat yang harus dipenuhi guru.

  1. Zuhud

Yaitu tidak mengutamakan untuk mendapatkan materi dalam tugasnya, melainkan karena mengharapkan keridlaan Allah semata-mata. Seperti Firman Allah SWT yang berbunyi:

اِتَّبِعُوْا مَنْ لاَّ يَسْأَلُكُمْ أجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

 

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (Q.S. Yasin: 21)

Menurut Imam al-Ghazali mengenai masalah gaji guru. Menurutnya seorang guru hanya boleh menerima upah dari tugasnya mengajar selain pelajaran agama. Pendapat ini untuk waktu tertentu dan dalam keadaan tertentu nampaknya bisa saja diterima, yaitu saat dimana para guru memiliki sumber penghasilan dari selain mengajar. Namun apabila sumber nafkah tersebut tidak ada lagi, sementara kebutuhan hidup guru yang mendukung pelaksanaan tugasnya dalam mengajar tidak dapat ditunda-tunda lagi, maka guru harus diberikan gaji. Jangan sampai mendapatkan gaji itu menjadi tujuan utama dalam tugasnya mengajar. Tujuan utamanya tetap mencari keridlaan Allah, sedangkan soal gaji hanya sebagai pendukung yang diperlukan untuk dapat menlaksanakan tugas tersebut.

  1. Memiliki jiwa yang bersih dari akhlak yang buruk

Athiyah al-Abrasy mengatakan, seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, pamer, dengki, permusuhan, dan sifat-sifat lainnya yang tercela menurut agama Islam. Timbulnya ketentuan sifat guru yang demikian itu didasarkan kepada Sunnah Rasulullah SAW yang berbunyi:

هَلاَكُ أُمَّتِيْ رَجُلاَنِ : عَالِمٌ فَاجِرٌ، وَعَابِدٌ جَاهِلٌ وَخَيْرُ الْخِيَارِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ وَشَرُّ الْأَشْرَارِ الْجُهَلاَءُ

Rusaknya umatku adalah karena dua macam orang: “Seorang alim yang durjana dan seorang saleh yang jahil”, orang yang paling baik adalah ulama yang baik dan orang yang paling jahat adalah orang-orang yang bodoh. (H.R. Baihaqi).

Al-Ghazali mengatakan bahwa seorang yang berminat untuk belajar dan mengajar harus lebih dahulu membersihkan seluruh anggota badannya. Menurutnya menuntut ilmu adalah bagian dari fardlu kifayah yang tidak boleh mendahulukan fardlu ain yang terdapat dalam ilmu dan amal, yaitu membersihkan anggota badan dari dosa, dan membersihkan bathin dari hal-hal yang dapat membinasakan dari sendiri.

  1. Ikhlas

Athiyah al-Abrasy mengatakan bahwa keikhlasan dan kejujuran seorang guru didalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik ke arah suksesnya dalam tugas dan sukses murid-muridnya.

  1. Pemaaf terhadap murid-muridnya

Guru harus sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, banyak sabar, dan jangan pemarah karena sebab-sebab kecil. Seorang guru harus pandai menyembunyikan kemarahannya, menampakkan kesabaran, hormat, lemah lembut, kasih sayang, dan tabah dalam mencapai suatu keinginan.

Selain itu, seorang guru juga harus memiliki kepribadian dan harga diri. Dalam hubungan ini ia harus menjaga kehormatan, menghindari hal-hal yang hina dan rendah, menahan dari sesuatu yang buruk, tidak membuat keributan, dan tidak berteriak-teriak minta dihormati.

  1. Menempatkan dirinya sebagai orang tua sebelum menjadi guru

Seorang guru harus mencintai murid-muridnya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti ia memikirkan anak-anaknya sendiri. Dengan cara demikian seorang murid dengan rasa cinta dan sayang pula akan mematuhi segala ajaran yang diberikan oleh guru tersebut.

  1. Harus mengetahui bakat, tabiat, dan watak murid-muridnya

Dengan pengetahuan seperti ini, maka seorang guru tidak akan salah dalam mengarahkan anak muridnya. Pemahaman yang mendalam terhadap tabiat dan bakat murid termasuk bagian yang diharuskan oleh para pakar di abad modern ini. Oleh sebab itu, sebelum seorang murid diberikan pelajaran tertentu, ia harus dites terlebih dahulu, termasuk di dalamnya adalah tes bakat dan wataknya.

  1. Menguasai bidang studi yang akan diajarkannya

Seorang guru harus sanggup menguasai mata pelajaran yang diberikan serta memperdalam pengetahuannya tentang itu, sehingga pelajaran tidak bersifat dangkal, tidak memuaskan, dan tidak menyenangkan.

sifat tambahan lainnya, seorang guru juga harus dapat melakukan kerjasama dengan orang tua murid, terutama pada murid yang kurang mampu menerima pelajaran atau memiliki kelainan sifat dengan murid lainnya.[7]

  1. Peserta Didik
  2. Pengertian Peserta didik

Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan Tilmidz jamaknya adalah Talamid, yang artinya adalah “murid”, maksudnya adalah “orang-orang yang menginginkan pendidikan”. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah Thalib, jamaknya adalah Thullab, yang artinya adalah “mencari”, maksudnya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”.

Dalam arti luas, peserta didik adalah siapa saja yang berusaha untuk melibatkan diri sebagai peserta didik dalam kegiatan pendidikan sehingga tumbuh dan berkembang potensinya, baik yang berstatus sebagai anak yang belum dewasa maupun orang yang sudah dewasa.[8]

Dalam istilah tasawuf peserta didik seringkali disebut dengan murid atau thalib. Secara etimologi murid berarti orang yang menghendaki sedangkan menurut arti terminologi murid adalah pencari hakikat di bawah bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (mursyid), sedangkan thalib secara bahasa berarti orang yang mencari sedang menurut istilah tasawuf adalah penempuh jalan spriritual dimana ia berusaha keras menempuh dirinya untuk mencapai derajat sufi.[9]

  1. Al-Qur’an dan Sunnah

1. Al-Qur’an

Menurut bahasa Al-Qur’an merupakan kata benda dari kata kerja Qara’at yang maksnanya sinonim dengan kata Qiro’at yang berarti “ bacaan”. Menurut istilah, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Syeh Ali  Ash-Shaabuni, ‘Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang menjadi mukjizat, diturunkan kepada Nabi dan Rosul terakhir dengan perantara Malaikat Jibril, tertulis dalam mushaf yang di nukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang di mulai dari surat Al-Fatihah dan di akhiri dengan surat An-Naas”

Al-Qur’an berisi segala hal mengenai petunjuk yang membawa hidup manusia bahagia di dunia dan bahagia di akhirat kelak.[10]

  1. As-Sunnah

Sunnah (kependekan dari kata sunnaturrasul, berasal dari kata sunan yang artinya garis) dalam Islam mengacu kepada sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah menjalani hidupnya atau garis-garis perjuangan/tradisi yang dilaksanakan oleh Rasulullah.[11]

  1. Posisi Al –Qur’an dan Sunnah dalam Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat pendidikan yang berdasar Islam tidak lain adalah pandangan dasar tentang pendidikan yang bersumberkan ajaran Islam itu sendiri (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang orientasi pemikirannya berdasarkan ajaran tersebut. Dengan perkataan lain, filsafat pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Posisi Al-Qur’an dan Sunnah dalam filsafat pendidikan Islam adalah merupakan dasar landasan yang fundamental dalam  mencari kebenaran atau memikirkan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Pendidikan Islam.

Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan  penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan.

Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al-Qur’an dan as-Sunnah Firman Allah : “Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”

Dan Hadist dari Nabi SAW: “Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al-Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”  Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Bahwa al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.

2. Menurut Sunnah Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.

3. Al-Qur’an dan Sunnah tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak  liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.[12]

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Pendidik secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Menurut al-Qur’an, secara garis besar pendidik ada empat macam yaitu Tuhan (Allah), Nabi, Orang tua, dan Orang lain (guru).

Guru atau pendidik memiliki kedudukan yang tinggi, maka dari itu pendidik ditempatkan diposisi kedua setelah Nabi. Mohammad Athiyah al-Aabrasy menyebutkan tujuh sifat yang harus dipenuhi guru antara lain Zuhud, Memiliki jiwa yang bersih dari akhlak yang buruk, Ikhlas, Pemaaf terhadap murid-muridnya, Menempatkan dirinya sebagai orang tua sebelum menjadi guru, Harus mengetahui bakat, tabiat, dan watak murid-muridnya, Menguasai bidang studi yang akan diajarkannya.

Peserta didik adalah siapa saja yang berusaha untuk melibatkan diri sebagai peserta didik dalam kegiatan pendidikan sehingga tumbuh dan berkembang potensinya, baik yang berstatus sebagai anak yang belum dewasa maupun orang yang sudah dewasa.

Posisi Al-Qur’an dan Sunnah dalam filsafat pendidikan Islam adalah merupakan dasar landasan yang fundamental dalam  mencari kebenaran atau memikirkan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Pendidikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

‘Athiyah Al-Abrasy, Mohammad (1974). Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta Bulan Bintang.

A. Fatah, Yasin (2008). Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang Press.

Hasan Fahmi, Asma (1979). Sejarah dan Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

http://kholilurrohman01.blogspot.com/2013/03/pengertian-dan-fungsi-al-quran-dan-as.html

http://tsu-basith.blogspot.com/2013/05/posisi-al-quran-dan-Sunnah-dalam.html

Mujib, Abdul. Yusuf Muzdakkir (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada.

Nata, Abudin (1999). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Poerwadarminta, W.J.S (1991) Kampus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rohman, Arif (2009). Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan. Surabaya: LaksBang Mediatama.

Tafsir, Ahmad (1984). Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sunnah

 

[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kampus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1991. Hal.250

[2] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984.hal.74

[3] Arif Rohman, Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan. Surabaya: LaksBang Mediatama, 2009. Hal.150

[4] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999. Hal.62

[5] Abudin Nata. Op., Cit. Hal.67

[6]Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1979. Hal.25

[7] Mohammad ‘Athiyah Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta Bulan Bintang, 1974. Hal.130

[8] Yasin, A. Fatah, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang Press, 2008. Hal.95

[9]Abdul Mujib, Yusuf Muzdakkir, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada, 2010. Hal.104.

[10] http://kholilurrohman01.blogspot.com/2013/03/pengertian-dan-fungsi-al-quran-dan-as.html

[11] Id.m.wikipedia.org/wiki/sunnah

[12] http://tsu-basith.blogspot.com/2013/05/posisi-al-quran-dan-Sunnah-dalam.html

Observasi Intelegensi

 

INTELIGENSI ANAK USIA 4 TAHUN

 

  1. BIODATA

Subyek yang diteliti    : Anak

Nama Anak                 : Muhammad Galuh Cakra Agraprana

TTL                             : Jepara, 13 Juni 2010

Umur                           : 3 tahun 10 bulan

Sekolah                       : PAUD Al-Fairuz. Ds. Cepogo, Kec. Kembang, Kab. Jepara

Nama Orang Tua

  1. Ayah               : Nur Hadi
  2. Ibu                   : Insanti Hidayah

Alamat                                    : Ds. Cepogo, Kec. Kembang, Kab. Jepara

  1. PENDISKRIPSIAN

Galuh Cakra Agraprana adalah seorang anak laki-laki yang berumur 3 tahun 10 bulan. Anaknya sangat cerewet, aktif, rasa ingin tahunya tinggi. Diusianya yg masih dini, dia sudah dapat mempelajari sesuatu yang ada di sekitarnya. Dia dapat menirukan apa yang telah diajarkan kepadanya. Dia sudah dapat memahami apa yang telah didengar, contohnya jika dia mendengar orang bicara, dan menurutnya itu lucu, maka dia akan mengulang kata-kata itu secara terus menerus. Selain itu, dia dapat menirukan apa yang orang lain lakukan, misalnya menirukan gaya berbicara seseorang.

Dia juga dapat melafalkan al-Qur’an seperti apa yang telah diajarkan kakek dan neneknya. Dia juga mengerti bahasa Arab, walaupun sedikit-sedikit, misalkan berhitung dari 1-10. Dia juga sudah menghafal angka 1-10. Dia juga sudah pandai menggambar, mewarnai, bernyanyi, dan lain-lain seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya.

Selanjutnya, dia telah memahami apa yang dia lihat disekitarnya, misalnya, dia sudah mengetahui sebagian gambar-gambar binatang, dia sudah bisa menebak gambar apa yang dimaksud. Dia juga sudah mengerti sebagian angka-angka.

Selain itu, dia sudah bisa merespon apa yang dia lihat di sekitarnya. Contohnya, Jika dia melihat seeokor kucing kecil, maka dia akan mengelusnya dan menggendongnya. Dia juga sudah mengerti bagaimana mengerjai orang. Contohnya, dia suka sekali dengan kucing, sedangkan kakaknya sangat takut dengan kucing, mengerti akan ketakutan kakaknya terhadap kucing, dia sangat bersemangat jika mengerjai kakaknya. Dia akan membawa seekor kucing kehadapan kakaknya hingga membuat kakaknya histeris. Jika sang kakak sudah histeeris, maka dia akan tertawa ngakak terus menerus. Itu dia lakukan sampai sang kakak berteriak memanggil-manggil ibunya, dan ibunya akan muncul sambil berteriak-teriak. Jika sudah seperti itu maka, Galuh akan berhenti mengerjai kakakknya.

  1. INTELEGENSI

Sebelum menuju pembahasan mengenai intelegensi, sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu mengenai tahap-tahap perkembangan. Piaget membagi tingkat perkembangan menjadi empat, yaitu Tahap Sensorik-Motorik (0-2 tahun), Tahap Berfikir Praoperasional (2-7 tahun), Tahap Berfikir Operasional Kongkrit (7-11 tahun), dan Tahap Berfikir Operasional Formal (11 tahun keatas). Dalam hal ini, Nadila Syahar Banu masuk dalam tahap berfikir praoperasional.

Dalam tahap berfikir praoperasional ditandai oleh terjadinya peningkatan bahasa secara dramatis. Bahasa yang diperoleh cepat sekali antara umur 2-4 tahun. Tingkah laku pada bagian sebelumnya sangat egosentris dan tidak sosial.[1]

Selanjutnya bahasan mengenai intelegensi. Dalam hal ini, kami meneliti tingkat inteligensi pada anak usia 3 tahun 10 bulan. Sebelum kami menjelaskan tentang subjek yang telah kami teliti mengenai intelegensinya, terlebih dahulu kami akan menguraikan pengertian inteligensi.

Freeman (1959) memandang inteligensi sebagai kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman, kemampuan untuk belajar dengan baik. Inteligensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu. Inteligensi manusia mempunyai implikasi sebagai suatu kemampuan adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan beradaptasi (belajar)

Merupakan suatu kemampuan yang harus manusia miliki dalam kehidupannya dan kemampuan beradaptasi ini menentukan inteligensi seseorang apakah inteligensinya tinggi atau rendah. Pada anak yang telah kami teliti (Nadila Syahar Banu), anak tersebut telah mampu beradaptasi (belajar) dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Misalkan, anak itu diajari oleh orang tuanya menulis huruf A, B, C, kemudian dia mampu menulis huruf-huruf tersebut.

 

  1. Kemampuan mengembangkan konsep

Yaitu kemampuan seseorang dalam memahami suatu cara kerja objek atau fungsinya dan kemampuannya bagaimana menginterpretasikan suatu kejadian. Anak tersebut telah mampu memahami cara kerja objek, misalnya, ada alat untuk mencuci piring atau gelas seperti spons dan sabun. Kemudian anak tersebut mampu memfungsikan alat tersebut dengan cara menggosokkannya kepada piring atau gelas yang kotor (mencucinya).

  1. Kemampuan memahami

Yaitu kemampuan seseorang dalam melihat adanya hubungan atau relasi di dalam suatu masalah dan kegunaan-kegunaan hubungannya bagi pemecahan masalah. Misalkan, anak tersebut mampu meyelesaikan masalah, contohnya: Nadila melihat adiknya sedang tercebur di kolam. Dia sebenarnya ingin menolong adiknya tersebut, tetapi dia tidak mampu karena dia masih kecil. Jalan satu-satunya yang dia tempuh supaya adiknya tadi tertolong, dia berteriak memanggil-manggil ibunya, kemudian ibunya merespon panggilan itu dan datang kepadanya dekat dengan adiknya yang tercebur tadi. Akhirnya adiknya pun tertolong.

Secara umum intelegensi dirumuskan sebagai berikut:

  1. Kemampuan untuk berfikir abstrak
  2. Kemampuan untuk menangkap hubungan–hubungan dan untuk belajar
  3. Kemampuan untuk menyesuaikan terhadap situasi-situasi baru

 

 

  1. TEORI-TEORI INTELEGENSI
  2. Teori Faktor (Charles Spearman)

Teori ini dikembangkan oleh Spearman, dia mengambangkan teori dua faktor dalam kemampuan mental manusia, yakni teori faktor “g” (faktor kemampuan umum) yaitu kemampuan menyelesaikan tugas-tugas umum, dan teori faktor “s” (kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas-tugas secara khusus).

Seperti yang dikatakan dalam teori ini, Galuh sudah bisa melakukan tugas-tugas umum, seperti disuruh untuk mengaji, membaca, menyanyi. Sedangkan dalam tugas khusus, Galuh

  1. Teori Struktural Intelektual (Guilford)

Teori ini dikembangkan oleh Guilford, dia mengatakan bahwa tiap-tiap kemampuan memiliki jenis keunikan tersendiri dalam aktifitas mental atau pikiran (operation), isi informasi (content), dan hasil informasi (product), penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Operation

Operation yaitu aktivitas mencari, menemukan, mengetahui dan memahami informasi. Misalnya mengatahui makna suatu kata.

Galuh adalah anak yang sudah mampu memahami informasi yang telah didengarnya, misalnya dia disuruh neneknya atau kakeknya membersihkan motor, maka dia akan mencari lap dan sudah mengetahui membersihkan motornya.

Operation terdiri atas:

1)    Memory yakni menyimpan informasi dalam pikiran dan mempertahankannya.

Memori yang dimiliki Galuh cukup kuat, itu terbukti saat dia pertama kali memegang gadget. Dia diajari bagaimana cara mengoperasikan gadget tersebut, maka dia akan langsung mengerti. Setelah diajari sekali, dia langsung sudah mengerti bagaimana mengoperasikan gadget terbut.

2)    Divergent production yakni proses menghasilkan sejumlah alternatif informasi dari gudang ingatan untuk memenuhi kebutuhan.

Galuh merupakan anak yang penuh dengan keingintahuan. Jika dia mengingat sesuatu tetapi tidak mengetahui nama barang atau sesuatu yang dia lihat sebelumnya, maka dia akan bertanya mengenai hal tersebut.

3)    Convergent production yaitu penggalian informasi khusus secara penuh dari gudang ingatan.

Galuh akan menebak apa yang dia lihat, baik itu gambaran maupun tulisan. Misalkan dia menebak nama gambar yang dia di buku.

  1. Content (isi informasi)

1)      Visual, yaitu informasi-informasi yang muncul secara langsung dari stimulasi yang diterima oleh mata.

Galuh mendapatkan informasi mengenai cara membersikan motor, menggunakan kain lap. Sang kakek mencontohkan bagaimana cara membersihkan motor, setelah itu dia akan mempraktekkannya.

2)      Auditory, yaitu informasi-informasi yang muncul secara langsung dari stimulasi yang diterima oleh sistem pendengaran.

Galuh akan mengetahui cara bernyanyi dengan baik, setelah sang guru mengjarkan dia bernyanyi.

3)      Symbolic, yaitu item-item informasi yang tersusun urut bersamaan dengan item-item lain.

Galuh mengetahui huruf abjad, angka, maupun nama-nama sesuatu melalui gambaran atau simbol.

  1. Product (bentuk informasi yang dihasilkan)

1)    Unit, yaitu suatu kesatuan yang memiliki suatu keunikan di dalam kombinasi sifat dan atributnya.

2)    Class, yaitu sebuah konsep dibalik sekumpulan objek yang serupa.

3)    Relation, yaitu hubungan antara dua item.

4)    Sistem, yaitu tiga item atau lebih berhubungan dalam suatu susunan totalitas. Transformastion, yaitu setiap perubahan atau pergantian informasi.

5)    Impliction, yaitu item informasi diusulkan oleh item informasi yang sudah ada.

  1. Teori Primary Mental Ability (Thurstone)

Teori ini mencoba menjelaskan tentang organisasi intelegensi yang abstrak, dengan membagi intelegensi menjadi kemampuan primer, yang terdiri atas kemampuan numerical/matematis, verbal (berbahasa). Abtraksi, berupa visualisasi atau berfikir berfikir membuat keputusan, mengenal atau mengamati, dan mengingat.

Berdasarkan sifat-sifat atau intelegensi yang sudah digambarkan sebelunya, maka intelegensi atau kemampuan yang dimiliki Galuh masuk dalam teori ini. Galuh sudah bisa menebak angka, sudah bisa berbahasa walapun masih belum lancar, sudah bisa berfikir bagaimana cara untuk mengambil keputusan, sudah bisa mengamati atau mengenal sesuatu yang dia lihat, dan juga mengingat apa yang diajarkan sebelumnya.

  1. Teori Uni Factor (Wilhelm Stern)

Menurut teori ini, intelegensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Oleh karena itu, cara kerja intelegensi juga bersifat umum. Reaksi atau tindakan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau dalam memecahkan masalah, bersifat umum pula. Kapasitas umum itu timbul akibat pertumbuhan fisiologis ataupun akibat belajar.

Kemampuan Kudus masuk ke dalam tahap ini, karena dia sudah bisa mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah saat dia melihat kakaknya sakit maka dia akan memanggil neneknya atau siapapun yang dia kenal untuk meminta pertolongan.

 

[1]Djaali, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara (2013). Hal. 68-69